
Komunitas Belajar SMAN 57 :Problem Based Learning with Google Tools Membangun Ekosistem Digital yang Bermakna
Kombel
Tema : Problem Based Learning with Google Tools
Membangun Ekosistem Digital yang Bermakna
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pendidikan, Komunitas Belajar (Kombel) SMAN 57 Jakarta kali ini hadir dengan semangat kolaborasi dan inovasi. Fokus utama kami pada pertemuan adalah mengintegrasikan metode Problem-Based Learning (PBL) dengan kecanggihan Google Workspace for Education. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan yaitu pada tanggal 10 dan 17 April 2026 dengan narasumber dari BGTK Banten yang juga seorang widyaiswara tingkat muda yaitu Ibu Jehan Ananda Aliah K.A, M.A Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan sebuah gerakan untuk mengubah paradigma mengajar: dari guru sebagai pusat informasi menjadi fasilitator yang memicu daya kritis siswa.
Mengapa Problem-Based Learning (PBL) ?
Dunia nyata memberikan selalu tantangan yang
harus dipecahkan. Tantangan tersebut akan menjadi masalah yang harus dipecahkan
dengan pola pikir kritis yang dimilik masing-masing individu. Melalui PBL, guru
mengajak murid SMAN 57 Jakarta diajak untuk:
Berkolaborasi: Bekerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan bersama
Teknologi bukan hanya alat, melainkan pengakselerasi beberapa
sistem kerja. Dalam sesi komunitas pada periode ini, para guru mengeksplorasi
bagaimana “ekosistem” Google memudahkan setiap tahapan PBL:
|
Tahapan
PBL |
Google
Tools yang digunakan |
Manfaat
Utama |
|
Orientasi Masalah |
YouTube & Google
Slides |
Pemantik visual
yang menarik minat siswa. |
|
Penyelidikan
Mandiri |
Google Search
& Google Scholar |
Riset mendalam
dengan sumber tepercaya. |
|
Kolaborasi
Kelompok |
Google Docs &
Jamboard |
Bertukar ide
secara real-time meski beda tempat. |
|
Presentasi Solusi |
Google Sites &
Slides |
Menampilkan karya
secara profesional dan digital. |
|
Evaluasi &
Refleksi |
Google Forms |
Umpan balik yang
instan dan terukur. |
Keseruan di Balik Layar
Suasana ruang pertemuan penuh dengan
antusiasme. Para guru tidak hanya mendengarkan, tetapi langsung mempraktikkan
bagaimana menyusun skenario pembelajaran yang menantang. Terjadi diskusi hangat
mengenai bagaimana cara memicu rasa ingin tahu murid agar mereka lebih aktif
bertanya daripada sekadar menjawab.
"Inovasi bukan tentang seberapa canggih
alat yang kita gunakan, tapi tentang seberapa besar dampak yang kita ciptakan
bagi pemahaman siswa."
Langkah Selanjutnya
Langkah selanjutnya dari Kegiatan Komunitas Belajar pada sesi ini adalah para guru diharapkan mampu untuk mengimplementasikan hasil yang mereka dapatkan dari pelatihan ini